The Memorable Conversation

(lokasi : di dalam taksi, menuju rumah sakit)
(kondisi : kontraksi lagi anteng)
(jam : 00.41-00.51)

a           : ” to Hvidøvre Hospital,please”
td         : ” okay!”
a,w,td : “………..”
td         : ” my daughter was giving birth there, too”
a           : ” where? in the taxi? “
td         : ” no, in Hvidøvre hospital ” (menjawab dengan muka cool pisan)
a           : ” ooo, okay ” (menanggapi jawaban dengan cool juga)
w           : (bengong, mau ngakak tapi perut mules g karuan)

Baru sempet kebahas pas Bhumi udah lahir, dan kami ngakak ga pake suara sejadi-jadinya (ya ada anak bayi lucu baru lahir). Apalagi si supir taksi ya..?! kayaknya begitu kami turun dia langsung ketawa ampe guling-guling koprol. Kayaknya mr.A sedang berpikir keras, jangan sampe saya melahirkan di taksi,karena entah kenapa, lampu lalu lintas malam itu sangat tidak bersahabat, padahal sebelum-sebelumnya naik bis ga pernah pas lampu merah. Saya bukannya g berpikir jangan sampe melahirkan di taksi, cuma ya g nyeletuk bin ajaib macam dia aja.

*a = mr.A, w = winda, td = the taxi driver

The Urban Mama, You Make Me Complete!

Setahun yang lalu, saya keluar dari kamar mandi dengan muka bingung kemudian membangunkan mr.A untuk mengabari dirinya kalau saya positif hamil. Setelah terlambat seminggu dari jadwal haid saya baru berani melakukan tes kehamilan. Bukannya saya tidak bahagia mendapati saya tengah mengandung. Tapi saat mengetahui saya hamil, saya berada 11.000 km dari orang tua dan belum mengantongi izin tinggal permanen di negara ini. Sungguh kebahagiaan yang saya rasakan berbalut dengan rasa khawatir dan ketidaksiapan.

Saya tidak pernah sekalipun sebelumnya berkutat dengan hal yang berkaitan dengan bayi. Saya seperti buta. Ga tau apa-apa tentang kehamilan dan per-bayi-an ini. Hingga pada suatu hari dipertengahan Desember, teh Ninit di akun twitternya menyebut tentang The Urban Mama. Saya yang lagi getol-getolnya mencari tahu informasi tentang kehamilan, menjadi ibu dan bayi, langsung menuju website yang dimaksud. Waktu itu masih beta version. Saya menemukan banyak topik yang bikin saya bersemangat dan melupakan sedikit kekhawatiran  tentang ini itu.

Pertama yang paling bikin saya seneng, banget, sampe pas tau saya langsung nyetel lagunya Michael Jackson- You’re not Alone, saya menemukan ibu-ibu yang domisilinya disekitaran eropa utara. Beneran akhirnya saya tidak merasa sendiri di bagian bumi utara ini. Topik- topik di thread Pregnancy pun jadi bacaan sehari-hari. Tentang ngidam, trus pakaian hamil, makanan yang boleh dan ga. Rasanya menenangkan. Walaupun banyak bacaan dari laman tentang kehamilan atau ibu dan anak, forum The Urban Mama terasa lebih mudah dicerna karena langsung dari pengalamannya urban mama dan papa.

Mulai memasuki tengah kehamilan, mulai mencari info mengenai perlengkapan bayi. Senangnya, ternyata banyak urban mama yang saat itu masih sama-sama mengandung sehingga saling berbagi barang-barang yang penting/tidak penting dan trend eco-lifestyle untuk bayi. Mendekati tanggal melahirkan, the Urban Mama menjadi tempat berbagi sesama ibu-ibu yang akan melahirkan bulan Juli. Walaupun tak saling mengenal, kata-kata semangat dari teman-teman di thread Juli 2010 membuat saya lebih berani dan ceria menghadapi due date. Hebat ya…padahal kami terpisah jarak…

Pasca melahirkan, ternyata tidak segampang dan semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Minggu pertama melahirkan, saya harus menghadapi Bhumi, hanya berdua dengan mr.A. Serangan the famous baby blues meruntuhkan mental saya, disertai dengan kelelahan yang amat sangat karena kehilangan waktu tidur sekaligus adanya ekspektasi sebelum melahirkan yang tidak pada tempatnya. Syukurnya, saya segera menyadarinya, karena sempat beberapa kali membaca pengalaman urban mama yang sudah mengalaminya. Mengasuh Bhumi hanya berdua dengan mr.A pun bukan perkara gampang. Bingung puting di minggu keduanya, lalu saya juga terkena thrush, membuat saya dan mr.A jadi rajin mantengin topik Breastfeeding. And it helped much. Mr.A jadi rajin membaca The Urban Mama dan jadi assisten tangguh istrinya kalau mulai kebingungan menghadapi Bhumi.

Kehidupan mulai berjalan normal setelah Bhumi usia sebulan. Topik Recipe untuk keluarga jadi andalan banget karena resep-resep simpel dari urban mama membantu saya yang harus mengurus Bhumi dan rumah sendirian. Yang paling top, suatu hari mr.A menelepon saya dari kantornya, hanya untuk…memberitahu kalau di TUM ada resep martabak manis di halaman depan laman TUM yang sudah lama dia idam-idamkan. Jadilah sorenya saya bisa membuatkan mr.A martabak manis idaman hatinya.

Kesukaan kami jalan-jalan juga mulai kami tularkan ke Bhumi. Dimulai dari mantengin topik Stroller Strory waktu masih dalam masa pencarian stroller sampai mengikuti pembicaraan seru di Travelling with Infants untuk mendapatkan tips-tips mengajak bayi melakukan perjalanan, dan walhasil, saya, Bhumi dan mr.A berhasil menaklukan long haul CPH-JKT.

Pastinya,  dalam 3 minggu Bhumi akan memulai makanan padat, dan hasil mantengin topik BLW, saya dan mr.A memutuskan akan menggunakan metode ini memperkenalkan jenis makanan. Semangat ngeliat foto-foto di topik ini. Semoga ketika tiba waktunya Bhumi senang dan menikmati makanan padat pertamanya. Wish us luck!!

Selain semua ilmu baru yang didapat dari forumnya The Urban Mama, yang paling menyenangkan adalah memiliki teman-teman baru, The TUMblers. They’re great!!! Dari mereka, saya ibu baru ini belajar banyak hal baru menjadi ibu. They show me, there is always a different story in every parenting style. Saya merasa begitu nyaman di forum nya TUM, padahal…tak satupun dari teman-teman ini yang pernah saya temui. Kebanyakan dari mereka benar-benar saya kenal secara virtual. Dan karena berada dibelahan dunia yang berbeda, membuat saya belum punya kesepatan bergabung di kopdarnya TUM yang selalu ramai dan meriah.

Setelah 5 bulan menjadi ibu, TUM selalu menjadi pendamping saya dalam mencari informasi mengenai menjadi ibu dan orang tua. #TUMtips nya yang selalu keren membuat saya tidak ingin ketinggalan mengikutinya. Bahkan pertanyaan-pertanyaan dari urban mama melalui #TUMblersAsk pun menjadi sumber informasi yang berguna untuk saya. Terima kasih ya TUM, saya tidak cuma bisa menjadi ibu yang semakin baik, tapi juga menjadi pribadi yang tangguh dan istri yang bisa membahagiakan suami. Pastinya menjadi inspirasi saya dan mr.A dalam mengasuh Bhumi. The Urban Mama, you make me complete!

Selamat Ulang Tahun yang pertama The Urban Mama. Semoga selalu menjadi tempat belajar bagi urban mama papa dan mengilhami keluarga-keluarga baru. Wish the best for The Urban Mama founder, teh Ninit, mbak Slesta dan mbak Thalia, yang membuat forum ini menjadi penolong bagi ibu baru seperti saya. :) Happy Birthday!!

The Urban Mama Writing Contest

Feel the Blues

akhirnya bisa nulis lagi. Sebenernya sih bisa-bisa aja, cuma punya waktu agak lowong kok lebih seneng dipake tidur, beberes rumah, masak atau malah nyetrika. Ini mumpung Bhumi tidur anteng, emaknya mau menikmati ‘me’ time.

Beneran ya, kata orang, kalau habis melahirkan itu emosinya kayak roller coaster. Mending kalo kerasa, masalahnya ternyata, si emosi yang naik turun ini malah menurut saya g kerasa awal-awalnya. Ini terjadi pada saya di minggu-minggu awal menjadi ibu. Bahkan saya baru menyadarinya kalau saya terserang the famous baby blues saat petugas kesehatan datang untuk mengontrol B dan bertanya…

is this what you expected as mother?

Awal-awal menjadi ibu bukan hal yang gampang bagi saya. Saya merasa ada kondisi nyaman saya yang terganggu, selain karena semua hal di minggu pertama semua harus dilakukan sendiri (berdua dengan mr.A) tanpa bimbingan siapapun. Perasaan di saat melahirkan yang over excited berubah menjadi over worried, over inconfident dan over protective. Yang paling saya rasakan di hari-hari awal Bhumi di rumah adalah lelah yang amat sangat. Tidur pun tidak begitu nyaman. Sehingga pada saat hari ke-empat dirumah saya merasa bahwa saya menyusui, mengganti popok Bhumi dan menggendongnya hanya bagian dari kewajiban untuk membuatnya tidak menangis. Saya merasa, perasaan saya sebagai ibu tidak muncul sedemikian rupa sehingga kegiatan-kegiatan tadi tidak menjadi menyenangkan dan membuat B merasa nyaman di dekat ibunya. Belum lagi, di hari kelima saya mengalami masitis. Payudara saya dua-duanya membengkak dan membuat saya meriang. Sungguh yang saya rasakan hanya ketidakmampuan mengasuh B, apalagi kalau mendengar B menangis kencang. Yang paling menenangkan saya disaat-saat seperti ini hanya menangis dan dipeluk oleh mr.A.

Minggu kedua,orang tua saya tiba di Kopenhagen, untuk menemani saya.Tapi sungguh, sebenarnya kedatangan mereka membuat saya merasa lebih tidak mampu. Kekhawatiran berlebihan dreyang Ti dan Kungnya saat B menangis membuat saya malah over protective ke B dan tidak mau menyerahkan B ke eyang-eyangnya. Saya merasa saya harus bisa membuat B tidak menangis, paling tidak merasa nyaman, dan g mau orang lain yang melakukannya untuk B, karena tidak mau dicap tidak mampu. Belum lagi di minggu ini Bhumi mengalami bingung puting, padahal tidak begitu minggu sebelumnya. Kondisi ini membuat saya cuma bisa berurai airmata.

Syukurnya, mama saya menyadari, bahwa saya merasa tidak nyaman dengan kekhawatiran yang berlebihan dari mereka. Mama pun lebih banyak membantu saya mengurusi dapur, menyiapkan makanan, dan menggendong B saat sesudah disusui dan membiarkan saya dan mr.A istirahat. Tampaknya keadaan ini membuat kondisi tubuh saya membaik dan membuat saya lebih mudah berpikir jernih.

Saya pun mulai menikmati bangun ditengah malam dan menyusui. Mulai tidak merasakan ketegangan yang berlebihan saat Bhumi menangis (sebelumnya, saat B menangis, jantung berdetak cepat seperti masuk ruang sidang). Sehingga saat ditinggal mama dan papa jalan-jalan, saya pun mulai menemukan ritme hidup yang baru. Mulai menikmati saat-saat menyusui dan kekhawatiran berlebihan pun mulai berkurang.

Ternyata, akhirnya saya harus mengakui tak setangguh yang saya bayangkan saat hamil dulu. Sepositif apapun pikiran saya, ternyata lelah yang amat sangat membuat saya kehilangan rasa untuk menikmati. Dan yang paling saya sadari, mungkin kondisi emosi yang begini muncul dari adanya ekspektasi di saat hamil. Saya baru menyadari setelah 24 jam B lahir kalau bayi itu tidak langsung pintar sedia kala. Karena kebanyakan menyerap informasi dari bacaan atau internet, saya merasa seperti sudah lama memiliki bayi, sehingga saya punya ekspektasi, bayi baru lahir langsung bisa menyusu atau berkomunikasi dengan ibunya. Tapi tidak begitu. Bayi yang baru lahir mengalami sensasi ‘serba baru’ dalam hidupnya, melebihi sensasi baru yang dialami saya dan mr.A. Dan bayi kecil ini menggantungkan hidupnya pada dua orang dewasa disekitarnya.

Ketegangan yang saya alami selama awal menangani B,mungkin juga karena saya tidak meresapi pesan para suster di rumah sakit saat saya mau pulang, bahwa bayi baru lahir, menangis karena 3 hal, lapar, sehingga ingin disusui, tidak nyaman, sehingga harus diganti popoknya atau digendong dan butuh dipeluk. Dan pastinya saya terlambat menyadari bahwa bayi menangis adalah satu-satunya cara mereka berkomunikasi dengan ayah-ibunya, sehingga saya pada awalnya tidak menikmati tangisan Bhumi yang menggelegar.

Untungnya, mr.A menemani saya disaat-saat seperti ini. Mendengarkan curhatan saya, menemani saya menangis sesenggukan, atau cuma memeluk saya dengan eratnya, walaupun saya tahu, dia juga tidak kalah lelahnya dari saya. Dan syukurlah, semua ini terlewati. Disaat minggu ke-4, mr. A harus kuliah diluar kota, sehingga saya hanya berdua dengan Bhumi. Kesempatan ini menjadi kesempatan besar untuk saya melakukan pendekatan. Layaknya jatuh cinta dengan seorang pria, butuh pendekatan yang tepat untuk membuatnya jatuh hati pada saya. And it worked! Sekarang semuanya menyenangkan. Mungkin memang butuh waktu untuk saling mengenal, karena memang cinta datangnya dari mata turun ke hati..dan ada sedikit bentangan jarak dari mata menuju hati yang harus dilalui.

love you B… more and more…can’t stop kissing youu…

ps. sedikit tips bila merasakan hal yang sama :

  • menangislah jika memang harus menangis
  • berceritalah pada orang terdekat, bisa suami atau ibu, atau bahkan sahabat
  • istirahatlah selagi bisa
  • kurangi ekspektasi, tentang apapun, dan nikmati setiap detik yang dijalani

Bhumi’s Hours (2)

(sebelumnya) “…dan pukul 12.20berangkat ke rumah sakit.”

Melahirkan Bhumi
Sungguh Allah mengabulkan doa saya saat melahirkan Bhumi. Karena saya mengalami kontraksi yang agak lama, saya terus berdoa, semoga saat proses melahirkannya saya diberi kemudahan. Sungguh Allah maha mengabulkan.
Setelah 25 menit perjalanan dengan taksi menuju rumah sakit (padahal naik bis kalau lampu lalu lintasnya hijau semua cuma 15-20 menit,entah mengapa malam semua lampu lalu lintas mendadak merah), dengan menahan rasa yang luar biasa, bukan sakit, lebih tepatnya…hmm…tidak terbayangkan..sulit dikatakan dengan kata-kata, saya dan mr.A tiba di rs. Sampai di rumah sakit, entah mengapa bidan yang pertama kali menyambut saya sungguh tidak ramah, dan tampak tidak suka saat saya menolak untuk jalan ke ruang observasi. Untungnya seorang bidan senior (entah senior atau tidak, pastinya tampak lebih tua) langsung mengambil berkas saya dan mengajak saya bicara pelan-pelan sembari menuntun saya jalan ke ruang observasi. Saya masih sempat melihat jam di ruangan, 12.55. Begitu saya berbaring, bu bidan langsung memeriksa kondisi saya, dan begitu melihat dia langsung tersenyum dengan lebarnya, sembari berkata

it’s already perfect! you’ll giving birth right now, i’ll find a room

sungguh saya langsung lega, begitu juga dengan mr.A. 5 menit kemudian bu bidan datang bersama 3 bidan lainnya, mendorong saya yang terbaring ke ruang melahirkan (adegannya persis kayak di film-film yang pesakitannya didorong-dorong di lororng rumah sakit). Saya masih sempet pindah kasur sendiri, dan begitu pindah, baju diganti dngan baju rs, lalu diperintahkan untuk mengeden jika kontraksi.Kontraksi pertama, dan saya mengejan, bidannya bilang, “his head is showing!you doing great!”. Sebenernya yang paling bikin momen ini g kerasa sakitnya adalah wajahnya mr.A yang dengan setia menemani disamping saya.Wajahnya berbinar-binar saat mengatakan,

Kepalanya Bhumi keliatan

entah ini halusinasi saya atau efek lampu kamar,tapi memang wajahnya yang tersenyum dengan lebarnya menjadi bersinar-sinar membuat saya berkekuatan penuh saat kontraksi yang kedua. Dan alhamdulillah saat kontraksi ketiga, Bhumi lahir sempurna,tepat pada pukul 1.17.

Post-Partum Moment
Saat-saat Bhumi lahir pun, benar-benar pengalaman yang luar biasa. Saya langsung merasa bahagia sebahagia-bahagianya, apalagi saat begitu lahir, Bhumi yang masih berdarah-darah dan berlendir langsung diletakkan di tubuh saya dan ditutupi dengan 5 lembar handuk hangat. Benar-benar saya bisa merasakan tubuh kecilnya yang hangat dalam pelukan saya dan suara tangisannya yang mereda saat tiba di dada saya. Mr.A langsung memeluk saya dan Bhumi sembari menciumi kening saya. Sungguh, kebahagiaan yang tiada duanya. Sembari saya menikmati proses first skin to skin contact , bidan menyuruh mr.A memotong tali ari dan kemudian saya mengejan sekali lagi untuk mengeluarkan kantung plasenta. Sayapun dibiarkan menikmati momen ini. Bidan tidak langsung menjahit luka saya, dan membiarkan saya dan mr.A menikmati kehadiran Bhumi. Lampu ruangan pun diredupkan agar mengurangi gangguan pada mata bayi. Dan bidannya juga mengingatkan untuk segera menyusui Bhumi begitu menunjukkan tanda-tanda lapar, karena pada dasarnya bayi lahir tidakserta merta merasa lapar, yang ada memang kebutuhan dipeluk sebagai tanda kenyamanan dan keamanan.

Mr.A langsung meng-azani Bhumi sepeninggal bidan. Sekarang kami bertiga. Dan tidak hentinya-hentinya saya mengucap alhamdulillah atas kelancaran dan apa yang disebut si bidan an effective giving birth karena total prosesnya hanya 12 menit. Sungguh Allah yang Maha Memudahkan dan Maha Mengetahui yang Baik. Dan alhamdulillah Bhumi lahir bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1431 H atau 9 Juli 2010 di hari Jumat Pon.

Setelah hampir 1 jam, barulah bidan kembali untuk mengobservasi luka dan sembari menjahit bagian yang harus dijahit. Dan bersaman dengan proses ini,Bhumi alhamdulillah menunjukkan tanda-tanda lapar. Saya sambil diajari oleh bidan mulai menyusuinya. Saya jadi mengerti, mengapa orang-orang mengatakan bahwa Inisiasi Menyusui Dini (IMD)/Early Latch On bayinya mencari-mencari puting ibunya. Tanpa dibuat sedemikian rupa si bayi tidak ditunjuki pun,ternyata bagi bayi baru lahir, proses menyusu pun merupakan pengalaman yang super baru, dan saya melihat Bhumi mencari-cari puting saya meskipun sudah di dekatnya. Sungguh, ketika dia mulai menghisap, saya seperti mengalamikontraksidi bagian perut dan melihat air susu yang keluar dari mulut Bhumi membuat saya terharu. Entah mengapa, saya tidak pernah sedikitpun terpikir bahwa air susu tidak akan keluar. Saya berpikir positif, bahwa payudara wanitadibuat sedemikian rupa berdasarkan permintaan. Bila dihisap oleh bayinya, insyaAllah akan keluar. Yang penting berpikiran positif bisa menyusui. Dan alhamdulillah Allah mengabulkan doa saya untuk memberikan yang terbaik bagi Bhumi di saat-saat awal kelahirannya.

Setelah dijahit, baru setelah 3 jam kelahirannya Bhumi ditimbang dan diukur badannya. Dipakaikan baju yang hangat, lalu tetap diberikan ke saya untuk tetap di dalam pelukan saya. Sungguh yang saya syukuri adalah, saya tidak perlu berpisah sedikitpun dengan bayi saya. Hingga akhirnya kami pindah ke kamar pasien, Bhumi selalu bersama kami.

Pengalaman melahirkan yang membuat saya semakin bersyukur pada Allah,atas nikmatNya yang tiada dua mengirimkan Bhumi ke dunia dengan sehat dan sempurna, mengirimkan mr.A sebagai pendamping hidup saya yang dengan tabahnya menemani seluruh proses melahirkan dari awal kontraksi. Sungguh saya semakin cinta mr.A sejak melahirkan.

Terima kasih ya Allah…atas semua rahmatMU..lindungilah keluarga kecil kami ini dan berikanlah kemudahan bagi kami sebagai ayah dan bunda untuk bisa membesarkan anak kami dalam ridhoMu.