18 hours flight

ini lanjutan dari cerita perjalanan saya menuju Kopenhagen, yang sempat tertunda dua hari…

Naik pesawat juga akhirnya….

Saya selalu suka suasana airport dan saya selalu exciting bila naik pesawat. Bentar aja saya selalu senang apalagi berjam-jam. Dapet tempat duduk yang lumayan bagus pemandangan keluarnya, jadi tambah bikin nyaman. Menyamankan tempat duduk untuk bersiap-siap memejamkan mata. Dan begitu lepas landas, entah kenapa ada perasaan haru dan setengah berbisik berkata,

see you soon Indonesia, see you soon Jakarta.

Tujuan transit pertama adalah menuju bandara Abu Dhabi, ditempuh dalam waktu 8 jam. Pesawat tujuan Abu Dhabi ini bisa dibilang penuh, karena saya perhatikan ternyata sebagian besar penumpang adalah tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di kawasan sekitar Timur Tengah. Sayang saya tidak bisa banyak ngobrol dengan mereka, karena beberapa yang saya lihat, duduknya tidak berdekatan dengan barisan saya. Dan diantara sekian banyak penumpang, tiba-tiba saya menemukan Wulan Guritno dan suaminya (info ini ga penting, pengen bilang saja..hahahahaha). Wah, mr.A langsung penasaran saat saya katakan Wulan Guritno berada satu pesawat dengan kita (dasar!).

Tiba di bandara Abu Dhabi pukul 8 malam, kami harus menunggu sekitar 5 jam sebelum keberangkatan kami selanjutnya ke Bandara Frankfurt. Saat transit ada kejadian yang menurut saya tidak biasa. Entah kenapa, penumpang yang diidentifikasi sebagai tenaga kerja diperintahkan untuk melepas alas kakinya. Padahal, saya dan mr.A dan juga beberapa penumpang lain, tidak. Apakah menjadi standar keamanan, atau ditakutkan mereka menyembunyikan sesuatu, saya sungguh belum mengerti mengapa ada prosedur seperti itu.

Selama menunggu, kami hanya menghabiskan waktu sembari berjalan-jalan, memanfaatkan internet gratis, dan pastinya mencoba tidur. Tapi sepanjang percobaan tidur, saya tidak pernah berhasil, karena pendingin ruangannya sangat tidak manusiawi. Entah ini untuk mengimbangi panasnya gurun di luar bandara, atau dengan tujuan sekedar memberi kenyamanan. Jadilah saya menyalurkan hobi saya yang tidak biasa yaitu menikmati orang yang lalu lalang. Saya perhatikan dari sekian banyak pegawai bandara, hanya sebagian kecil yang merupakan orang Arab, sebagian besar adalah pendatang, seperti dari India, Pakistan, Thailand, Philipina, dan Indonesia pastinya. Saya berpapasan dengan dua orang wanita berbicara Indonesia logat Jakarta fasih berbalut seragam bandara. Dan menikmati orang yang lalu lalang berpindah dari satu penerbangan ke penerbangan lain, rasanya sangat menyenangkan.

Tiba pukul 1 pagi, kami kembali boarding untuk melanjutkan perjalanan ke bandara Frankfurt. Hanya butuh beberapa menit saya langsung tertidur. Tampaknya ini juga terjadi pada mr.A karena saat terbangun sekitar pukul 5 (tepat saat pramugari menawarkan roti dan teh), kami berdua tidak ada yang menyadari kapan pesawat berangkat. Sarapan paginya sangat menggugah selera (mungkin karena lapar juga) disertai dengan pemandangan matahari terbit yang saya nikmati dari jendela pesawat. Dan tepat pukul 6.20 kami tiba di bandara Frankfurt yang belum ramai (karena seharusnya sangat ramai). Dan setelah mengambil bagasi kami melanjutkan perjuangan kami untuk mendapatkan penerbangan ke Kopenhagen.

(selanjutnya : berburu last minute ticket)

Advertisements

One thought on “18 hours flight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s