Feel the Blues

akhirnya bisa nulis lagi. Sebenernya sih bisa-bisa aja, cuma punya waktu agak lowong kok lebih seneng dipake tidur, beberes rumah, masak atau malah nyetrika. Ini mumpung Bhumi tidur anteng, emaknya mau menikmati ‘me’ time.

Beneran ya, kata orang, kalau habis melahirkan itu emosinya kayak roller coaster. Mending kalo kerasa, masalahnya ternyata, si emosi yang naik turun ini malah menurut saya g kerasa awal-awalnya. Ini terjadi pada saya di minggu-minggu awal menjadi ibu. Bahkan saya baru menyadarinya kalau saya terserang the famous baby blues saat petugas kesehatan datang untuk mengontrol B dan bertanya…

is this what you expected as mother?

Awal-awal menjadi ibu bukan hal yang gampang bagi saya. Saya merasa ada kondisi nyaman saya yang terganggu, selain karena semua hal di minggu pertama semua harus dilakukan sendiri (berdua dengan mr.A) tanpa bimbingan siapapun. Perasaan di saat melahirkan yang over excited berubah menjadi over worried, over inconfident dan over protective. Yang paling saya rasakan di hari-hari awal Bhumi di rumah adalah lelah yang amat sangat. Tidur pun tidak begitu nyaman. Sehingga pada saat hari ke-empat dirumah saya merasa bahwa saya menyusui, mengganti popok Bhumi dan menggendongnya hanya bagian dari kewajiban untuk membuatnya tidak menangis. Saya merasa, perasaan saya sebagai ibu tidak muncul sedemikian rupa sehingga kegiatan-kegiatan tadi tidak menjadi menyenangkan dan membuat B merasa nyaman di dekat ibunya. Belum lagi, di hari kelima saya mengalami masitis. Payudara saya dua-duanya membengkak dan membuat saya meriang. Sungguh yang saya rasakan hanya ketidakmampuan mengasuh B, apalagi kalau mendengar B menangis kencang. Yang paling menenangkan saya disaat-saat seperti ini hanya menangis dan dipeluk oleh mr.A.

Minggu kedua,orang tua saya tiba di Kopenhagen, untuk menemani saya.Tapi sungguh, sebenarnya kedatangan mereka membuat saya merasa lebih tidak mampu. Kekhawatiran berlebihan dreyang Ti dan Kungnya saat B menangis membuat saya malah over protective ke B dan tidak mau menyerahkan B ke eyang-eyangnya. Saya merasa saya harus bisa membuat B tidak menangis, paling tidak merasa nyaman, dan g mau orang lain yang melakukannya untuk B, karena tidak mau dicap tidak mampu. Belum lagi di minggu ini Bhumi mengalami bingung puting, padahal tidak begitu minggu sebelumnya. Kondisi ini membuat saya cuma bisa berurai airmata.

Syukurnya, mama saya menyadari, bahwa saya merasa tidak nyaman dengan kekhawatiran yang berlebihan dari mereka. Mama pun lebih banyak membantu saya mengurusi dapur, menyiapkan makanan, dan menggendong B saat sesudah disusui dan membiarkan saya dan mr.A istirahat. Tampaknya keadaan ini membuat kondisi tubuh saya membaik dan membuat saya lebih mudah berpikir jernih.

Saya pun mulai menikmati bangun ditengah malam dan menyusui. Mulai tidak merasakan ketegangan yang berlebihan saat Bhumi menangis (sebelumnya, saat B menangis, jantung berdetak cepat seperti masuk ruang sidang). Sehingga saat ditinggal mama dan papa jalan-jalan, saya pun mulai menemukan ritme hidup yang baru. Mulai menikmati saat-saat menyusui dan kekhawatiran berlebihan pun mulai berkurang.

Ternyata, akhirnya saya harus mengakui tak setangguh yang saya bayangkan saat hamil dulu. Sepositif apapun pikiran saya, ternyata lelah yang amat sangat membuat saya kehilangan rasa untuk menikmati. Dan yang paling saya sadari, mungkin kondisi emosi yang begini muncul dari adanya ekspektasi di saat hamil. Saya baru menyadari setelah 24 jam B lahir kalau bayi itu tidak langsung pintar sedia kala. Karena kebanyakan menyerap informasi dari bacaan atau internet, saya merasa seperti sudah lama memiliki bayi, sehingga saya punya ekspektasi, bayi baru lahir langsung bisa menyusu atau berkomunikasi dengan ibunya. Tapi tidak begitu. Bayi yang baru lahir mengalami sensasi ‘serba baru’ dalam hidupnya, melebihi sensasi baru yang dialami saya dan mr.A. Dan bayi kecil ini menggantungkan hidupnya pada dua orang dewasa disekitarnya.

Ketegangan yang saya alami selama awal menangani B,mungkin juga karena saya tidak meresapi pesan para suster di rumah sakit saat saya mau pulang, bahwa bayi baru lahir, menangis karena 3 hal, lapar, sehingga ingin disusui, tidak nyaman, sehingga harus diganti popoknya atau digendong dan butuh dipeluk. Dan pastinya saya terlambat menyadari bahwa bayi menangis adalah satu-satunya cara mereka berkomunikasi dengan ayah-ibunya, sehingga saya pada awalnya tidak menikmati tangisan Bhumi yang menggelegar.

Untungnya, mr.A menemani saya disaat-saat seperti ini. Mendengarkan curhatan saya, menemani saya menangis sesenggukan, atau cuma memeluk saya dengan eratnya, walaupun saya tahu, dia juga tidak kalah lelahnya dari saya. Dan syukurlah, semua ini terlewati. Disaat minggu ke-4, mr. A harus kuliah diluar kota, sehingga saya hanya berdua dengan Bhumi. Kesempatan ini menjadi kesempatan besar untuk saya melakukan pendekatan. Layaknya jatuh cinta dengan seorang pria, butuh pendekatan yang tepat untuk membuatnya jatuh hati pada saya. And it worked! Sekarang semuanya menyenangkan. Mungkin memang butuh waktu untuk saling mengenal, karena memang cinta datangnya dari mata turun ke hati..dan ada sedikit bentangan jarak dari mata menuju hati yang harus dilalui.

love you B… more and more…can’t stop kissing youu…

ps. sedikit tips bila merasakan hal yang sama :

  • menangislah jika memang harus menangis
  • berceritalah pada orang terdekat, bisa suami atau ibu, atau bahkan sahabat
  • istirahatlah selagi bisa
  • kurangi ekspektasi, tentang apapun, dan nikmati setiap detik yang dijalani
Advertisements

5 thoughts on “Feel the Blues

  1. I feel u, Winda… apalagi dirimu ngurus Bhumi berdua mr.A aja nun jauh di utara sana, pasti lebih bikin capek. Having a baby will challenge us with ways we never expected. Tapi elu hebat, minggu ke-4 udah ketemu ritmenya… gw ada kali 2-3 bulanan. Bener banget semua tipsnya, terutama yang ttg mengurangi ekspektasi 😉 cucian baju n piring bisa menunggu ,tapi waktu2 “pendekatan” dgn si baby nggak akan tergantikan, hehee. Sehat terus yaa kalian bertiga disana 😀

  2. aaahh.. winda..membaca ini membuatku kangen padamu, dan ingin memeluk *peluuukkk*.. bersyukur banget punya mr. A ya wind.. semoga kamu menjadi ibu yang baik!! and i’m sure you are 🙂 inget aja wind, ketika kamu sudah ‘ketitipan’ anak sama Allah, berarti kamu memang mampu wind 🙂 semoga sehat dan baik2 selalu di sana ya windaaaaa. selamat menikmati..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s