Mie Ayam dan Brownies Tiramisu

” Jadi lo sekarang, lesbian?” tanya saya yang akhirnya berani menanyakannya setelah semangkok mie ayam, beberapa potong brownies tiramisu dan kerupuk, juga sepenggal pembicaraan mengenai konspirasi Amerika sebagai pembuka. ” Sejak kapan? Kayaknya lo masih suka cowok sebelum gwe tinggal?”

Ya ini memang pertemuan pertama kedua saya dengan si sutradara muda yang tahun ini akan merilis film keempatnya. Jadi demi menjawab rasa penasaran saya yang selama ini hanya membaca kabar dari blognya, harus tanyakan, karena akan aneh kalau saya tanya dia lewat milis atau grup whatsapp.

“Gwe udah lama lesbi, tapi baru menyadarinya.”, jawabnya santai dan tetap percaya diri seperti biasa.

” Emang udah lo cobain ama laki-laki sampe akhirnya lo menyadari wanita lebih menarik secara seksual? ” , tanya saya macam anak SMA yang baru dapat pelajaran tentang seks.

“Udah gwe cobain lah dan gwe selama ini ga sadar kalau rasa suka gw ke wanita yang cenderung ke arah seksual emang pertanda gw lesbian”, jelasnya.

” Jadi maksud lo, lo bisa jadi terlahir dengan ketertarikan terhadap wanita? ” , nada saya semacam penasaran dan menginterogasi.

” menurut penelitian memang genetis, being homosexual, tapi memang buktinya belum banyak. Masih dalam penelitian. Wanita malah cenderung biseksual dan lama baru ketauan kalau dia homoseksual, bisa baru usia 60 tahun. ” dia menjelaskan, ” Google lah! Hari gini udah banyak penjelasannya” setengah memerintah saya yang masih mencoba mencerna penjelasannya.

Ini jelas seperti hal baru untuk saya. Selama ini saya punya teori dan pemikiran sendiri tentang homoseksual, dan cenderung mengabaikan kalau ini sifat yang tumbuh genetis. Tapi kalau ini genetis, berarti bisa menempel di gen siapapun dan berkembang di siapapun. Meskipun saya 4 tahun tinggal di Kopenhagen, dimana homoseksual diterima dengan tangan terbuka, dan bagi saya homoseksual itu pilihan untuk setiap orang, tapi bagi seorang ibu, ini bukan hal yang mudah diterima jika bicara tentang anak dan homoseksual. Lalu saya hanya terdiam dan melanjutkan gigitan bolu kukus pandan selanjutnya.

” Nyokap lo gimana? ” tanya saya agak ragu-ragu, ” Bokap lo ? “

” Nyokap gw ya sedih, tapi bokap gw lebih terbuka orangnya “, terangnya.

” ah, syukurlah ” , entah mengapa saya bersyukur untuknya, bahagia untuk dia.

” Jadi, siapa aja artis yang lesbi dan gay, bo? ” , tanya teman saya yang lain, ibu seorang gadis kecil yang lucu , Boni. Mungkin mencoba mengahangatkan suasana yang dingin sore itu karena hujan mengguyur Bandung tanpa henti dari pagi.

” Si …… “, dia mulai bercerita.

Dan saya pun membiarkan otak saya berpikir keras tentang kekhawatiran saya, sembari kuping saya mendengarkan deretan artis gay dan lesbi yang dia sebutkan. Dan kami pun melanjutkan pembicaraan ditemani semangkok mie ayam (lagi) dan beberapa potong brownies tiramisu, serta teh TongT*i panas.

Lalu saya pun berharap, semoga dia tak lagi patah hati, segera bertemu dengan cintanya, dan filmnya masuk ke festival film bergengsi tahun ini dan bisa menyambangi saya di kota yang baru nanti.

Amiin.

ps. Hari ini berita ini muncul di koran digital, selamat membaca dan mencari. Google mulai sekarang!

Advertisements

7 thoughts on “Mie Ayam dan Brownies Tiramisu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s