Asa Bisa Karena Biasa

Beberapa waktu lalu, saya membaca postingan tentang bagaimana konsumen restoran Ikea Indonesia meninggalkan peralatan makan bekas pakainya, tetap di meja, atau tidak dikembalikan ke rak bekas pakai. Saya pikir, itu biasa saja. Yang luar biasa kalau mereka secara sadar langsung memindahkannya ke tempat semestinya.

Beberapa hari yang lalu, saya makan malam di Ikea dekat rumah, dan saya menemukan realita yang sama. Alat makan bekas pakai masih ada yang berserakan di meja. Jadi sebenernya apa yang salah?

Setelah saya pikir, tidak ada yang salah. Ini masalah kebiasaan saja.

Saya belum pernah ke Ikea di Swedia, tempat asalnya Ikea. Tapi beberapa tahun terakhir saya tinggal di negara tetangganya. Kebiasaan yang berlaku di negara saya tinggal dulu, kurang lebih begini :

  • Kalau makan di restoran siap saji, biasanya tidak ada pelayan yang bertugas khusus membersihkan. Pelayan di konter pembelian, ya dia dia juga yang kebagian membereskan, jadi mau ga mau konsumen membereskan makanannya sendiri setelah selesai makan. Harga tenaga kerja mahal. Ya ga bisa banyak-banyak pegawai satu gerai makanan cepat saji, kalau mau mendapatkan profit besar.
  • Selama saya tinggal di negara ini, saya belajar melayani diri saya sendiri. Maksudnya begini. Setelah saya makan, ya saya membersihkan meja saya sendiri, memastikan saya tidak meninggalkan jejak sedikitpun, saya pastikan meja, dan lantai bekas saya makan bersih. Ya ga perlu sampe ngambil sapu, tapi memastikan g ada sampah besar dan terlihat yang mengganggu kenyamanan konsumen yang bakal duduk di tempat bekas saya duduk. Tempat duduk kembali ke posisinya. Piring dan segala peralatan dikembalikan ke tempat peralatan bekas, dan sampah dimasukkan ke tempat sampah yang telah disediakan. Apalagi kalau punya anak, ya saya mau ga mau memastikan tempat duduk bekas Bhumi, bersih seperti sedia kala.
  • Tempat sampah dan tempat piring bekas selalu tersedia. Ketersediaan tempat ini sebenarnya seperti tanda untuk ‘mengembalikan segala sampah anda ke tempat ini oleh anda sendiri’. Ya si pelayan, kadang  pekerjaannya cuma mengosongkan tempat sampah atau membawa masuk piring bekas ke dapur.

Dan saya melihat semua orang, melakukannya dengan sadar. Setelah makan, bersama anggota keluarganya, mereka memastikan semuanya bersih. Ya satu dua orang pencilan, yang seenaknya ninggal sampah di mejanya selalu ada lah ya, tapi lebih sedikit. Jadi…kebiasaannya memang seperti itu.

Saat kembali ke Indonesia, ya saya kurang lebih masih melakukan ini. Gagapnya adalah saat makan di restoran cepat saji atau food court, saya terlihat aneh saat saat harus mbawa-mbawa sisa makanan untuk dibuang ke tempatnya. Masalah lainnya, ga semua tempat ada tempa untuk membuang sampah ini. Mungkin, karena petugas kebersihan memang tersedia banyak , dan semua orang punya asumsi bahwa petugas kebersihan ini yang bertanggung jawab atas sampah mereka.

Satu-satunya tempat yang saya tau cukup tegas menjalankan aturan kembalikan alat makanmu ke tempatnya itu adalah Kantin Salman. Karena mereka tahu ini bukan kebiasaan yang umum, di beberapa sudut mereka memberikan pemberitahuan untuk mengembalikan piring dan gelas bekas ke tempat yang telah disediakan. Kalau ada yang nekat tidak membawa sampahnya, banyak yang tidak segan mengingatkan.

aristotle-quote-habit

Di negara saya tinggal sekarang, orang-orangnya juga terbiasa dilayani. Petugas kebersihan banyak. Tinggal saja sisa makanannya, mereka akan segara mengangkatnya. Kejadiannya mirip, kalau saya bawa-bawa sendiri bekas makanan saya, ya suka diliatin. Bahkan, di kota saya tinggal ini, di Ikea yang katanya self-service, orang bisa datang tinggal duduk dengan membawa daftar barang yang diinginkan, dan minta orang lain mengambilkan untuknya,setelah selesai , ya tinggal bayar.

Jadi, ini masalah kebiasaan saja. Kalau di restoran sekelas restoran Ikea yang menuntut orang-orang untuk melayani dirinya sendiri, masih ada yang belum bisa melayani dirinya, ya belum terbiasa saja. Karena kebiasaan umumnya adalah… tinggal sisa makanannya, akan datang petugas kebersihannya. Paling tidak, mulai sekarang, semua bisa dibereskan sendiri kan? Buang sampah sisa, bersihkan mejanya, kembalikan tempat duduknya.

Jadi, Asa Bisa Karena Biasa kan??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s